Cara Mulai Bisnis Online Untuk Pemula [Panduan Lengkap]

  • Post category:Tips Bisnis
  • Reading time:20 mins read
You are currently viewing Cara Mulai Bisnis Online Untuk Pemula [Panduan Lengkap]

Memulai bisnis online memang bukan hal yang mudah, apalagi kalau kamu masih pemula. Namun bukan berarti kamu tidak bisa mempelajarinya. Melalui panduan ini, kamu akan mengetahui dengan lengkap bagaimana cara mulai bisnis online yang tepat dan tentunya ramah bagi pemula!

Panduan ini akan membantu tahap demi tahap hingga akhirnya kamu bisa memiliki bisnis online. Mulai dari mindset, menentukan pasar, model bisnis beserta produknya, hingga strategi yang bisa kamu gunakan. Simak cara lengkap mulai bisnis online untuk pemula di bawah ini yuk!

7 Cara Mulai Bisnis Online Untuk Pemula

Dalam memulai bisnis online bagi pemula, terdapat tujuh tahapan yang harus kamu lakukan. Berikut adalah tahapan-tahapannya:

  1. Siapkan Mindsetmu Dulu.
  2. Mulai dengan Spesific Customer.
  3. Pilih Model Bisnis yang Scalable.
  4. Menentukan Produk yang Tepat
  5. Mengetahui Customer Journey.
  6. Tentukan Tempat Jualan Online.
  7. Pilih Strategi yang Tepat.

Siapkan Mindsetmu Dulu

Sebelum memulai bisnis, ada baiknya mindsetmu harus dipersiapkan terlebih dahulu. Memang apa pentingnya mindset? Tentu penting, bahkan dapat memengaruhi bagaimana kamu memulai dan menjalankan bisnis online nantinya.

Setidaknya ada lima mindset utama yang harus kamu miliki untuk bekal dalam merintis bisnis online. Simak selengkapnya di bawah ini ya!

1. Bahaya Chicken Mindset

Hal yang paling banyak membuat seseorang gagal baik itu ketika berbisnis ataupun dalam menjalani hidup adalah karena mereka belum bisa mengatasi internal problem atau permasalahan yang ada di dalam pikiran masing-masing.

Masalah seperti takut gagal, asumsi tak berdasar, percaya diri, dan mental block memiliki akar yang sama yaitu karena tidak mau keluar dari zona nyaman.

Denny Santoso, seorang pakar digital marketing menyebutnya dengan istilah chicken mindset. Orang-orang dengan chicken mindset akan selalu terfokus pada zona nyaman dan pada akhirnya mereka tidak dapat meraih apa yang menjadi goals mereka.

Untuk mengetahui lebih lanjut seputar chicken mindset dan cara mengatasinya, silahkan simak video berikut:

2. Longlife Learner

Selama masih hidup, manusia akan selalu butuh untuk mempelajari hal-hal baru karena dunia akan selalu dinamis.

Jika kamu bisa menumbuhkan rasa penasaran, tentu akan lebih mudah bagimu untuk bisa adaptif dengan perkembangan yang ada, termasuk dalam hal bisnis.

Tanyakan selalu mengenai segala hal, lalu manfaatkan teknologi yang ada seperti Google untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut. Bahkan, anak kecil zaman sekarang sudah tahu bahwa pertanyaan mereka akan terjawab lewat Mbah Google.

Jadi jangan anggap remeh nasihat “stay hungry, stay foolish” dari Steve Jobs karena dengan mindset itulah ia bisa membuat Apple menjadi perusahaan paling inovatif di dunia.

3. Stop Berasumsi

Salah satu kesalahan terbesar orang-orang yang baru memulai bisnis adalah terlalu banyak berasumsi tanpa bisa membuktikannya.

Contohnya adalah ketika diawal merintis usaha, kebanyakan para pebisnis pemula akan menentukan produknya terlebih dahulu dan mereka percaya bahwa ada banyak orang yang menyukai produk tersebut, atau keyakinan bahwa bisnismu akan balik modal dalam waktu singkat.

Bisnis tidak bisa dibangun hanya berdasarkan asumsi dan keyakinan saja. Kamu harus mengetahui secara pasti seberapa luas pasar yang kamu incar, apakah produk kamu menjadi solusi atas permasalahan konsumenmu?

Pastikan hal-hal tersebut dengan melakukan validasi atas asumsi yang sudah dibuat sehingga bisnismu tidak berlarut pada hal yang tidak pasti.

4. Models What Works

 Tidak perlu menciptakan sesuatu yang benar-benar baru untuk bisa sukses berbisnis. Metode ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) tidak akan pernah usang ditelan zaman, karena di dunia ini tidak ada sesuatu yang benar-benar baru.

Lihat bisnis yang jadi kompetitor atau role model kamu lalu cari tahu fitur produknya, cara bisnisnya bekerja, dan bagaimana strateginya sehingga kamu tinggal memperbaiki kekurangan mereka serta mempertahankan kelebihannya untuk bisa menghadirkan solusi yang baru dan lebih baik.

Tentu kamu harus bisa membedakan mana yang menggunakan metode ATM dengan yang menjiplak ya!

5. Prinsip TOTE

TOTE merupakan singkatan dari test-operate-test-exit yang artinya kamu tidak bisa hanya melakukan sekali percobaan dan boom! bisnismu langsung sukses. Thomas Alfa Edison memerlukan seribu kali percobaan untuk bisa menciptakan lampu, begitupun dirimu.

Membangun bisnis artinya harus siap menerima kegagalan dengan memperbaiki kesalahan dan kembali mencoba hingga kamu berhasil.

Mulai Dari Spesific Customer

Pernah dengar Google Glass? Produk inovasi dari Google yang sempat membuat gempar di tahun 2012 lalu karena kecanggihannya.

Namun setelah dirilis, produk tersebut malah kurang diminati karena harganya yang terlalu mahal serta fitur-fiturnya dirasa terlalu canggih dan masih kurang diperlukan oleh orang-orang pada saat itu.

Belajar dari kesalahan yang dilakukan oleh Google, membangun bisnis tidak bisa dimulai dari produk. Kamu harus mengenali konsep customer-centric atau memulai bisnis berdasarkan apa yang dibutuhkan oleh konsumen.

Jika produkmu bisa menyelesaikan permasalahan konsumen maka mereka tidak akan berpikir dua kali untuk menggunakannya. Oleh karena itu, cara mulai bisnis online dimulai dengan mengetahui siapa konsumenmu dan apa yang mereka butuhkan.

Untuk bisa mengetahui apa yang konsumen butuhkan, kamu perlu melakukan riset terlebih dahulu mengenai spesific niche yang kamu targetkan serta membuat buyer persona yang dapat menggambarkan konsumenmu secara mendalam.

1. Niche yang Spesifik

Banyak pebisnis pemula yang mengatakan bahwa target pasar mereka adalah semua kalangan karena dengan semakin besarnya pasar maka akan semakin banyak juga konsumen mereka.

Pernyataan ini salah karena setiap manusia memiliki masalah yang berbeda dan tentunya membutuhkan solusi yang berbeda pula. Tentunya produkmu tidak bisa jadi solusi atas semua masalah kan?

Oleh karena itu, kamu perlu menentukan kelompok spesifik dengan permasalahan spesifik yang akan kamu beri solusi lewat bisnismu. Kelompok spesifik ini disebut juga sebagai niche.

Contoh dari spesific niche yang ada pada industri fashion adalah baju untuk perempuan milenial yang sedang hamil. Contoh lainnya di industri catering adalah catering diet untuk orang yang fitness.

1.1. Semakin Spesifik Semakin Baik?

Perlu untuk dipahami bahwa semakin spefik nichenya maka akan semakin baik, namun tetap harus diperhatikan juga jumlah marketnya dan apakah konsumen pada niche tersebut memiliki kemauan dan kemampuan untuk membeli produkmu.

Percuma menjual video tutorial home workout jika tidak ada konsumen yang mau karena sudah banyak tersedia di Youtube. Percuma juga menjual steak premium ke segmen mahasiswa karena hanya sebagian kecil yang mampu membelinya.

1.2. Cara Menentukan Niche

Banyak faktor yang bisa membantu kamu menentukan niche yang tepat. Kamu bisa memulainya berdasarkan passion atau bidang yang sudah kamu pahami, tren yang sedang berkembang saat ini, atau adanya permasalahan yang kamu temukan, poin pentingnya harus spesifik ya.

Buat beberapa daftar niche untuk kamu riset seberapa besar market dan potensi profitnya. Riset dilakukan untuk tiap niche yang ada di daftar tersebut, kamu bisa melakukannya dengan cara-cara sederhana seperti berikut:

  • Gunakan tools Google Tren untuk mengetahui perkembangan tren dari waktu ke waktu.
  • Cari kata kunci yang berhubungan dengan niche di Google dan lihat berapa banyak jumlah pengiklan pada hasil pencarian. Semakin banyak pengiklan maka semakin profitable niche tersebut.
  • Temukan komunitas online yang berhubungan dengan nichemu seperti di Facebook Group atau Kaskus, lihat berapa banyak anggota komunitas tersebut untuk mengukur besarnya pasar.
Google Tren
Source: Google Tren

Masih banyak cara sederhana lain yang bisa dilakukan. Namun, pastikan hasil riset tersebut bisa menjawab pertanyaan seperti: Seberapa besar pasarnya? Apakah ada spesific problem yang muncul? Apakah market tersebut mampu dan mau membeli produkmu?

2. Buyer Persona

Untuk mempermudah penggambaran seperti apa target konsumen dari bisnismu, diperlukan buyer persona atau karakter fiktif yang mewakili orang-orang di niche kamu. Persona ini memiliki karakteristik dan pengetahuan tertentu yang membuatnya secara pasti akan mau membeli produk/jasamu.

Penggunaan buyer persona dapat memudahkan kamu dalam memahami permasalahan target konsumen secara mendalam sehingga kamu bisa menghadirkan solusi yang tepat bagi mereka.

Membuat buyer persona tidak bisa hanya mengandalkan data demografis dan geografis saja seperti umur, pekerjaan dan tempat tinggal. Kamu juga perlu mengetahui seperti apa sifat, lifestyle, harapan dan permasalahan mereka. Berikut adalah beberapa poin yang harus ada pada buyer personamu:

  • Demografis: usia, status, pekerjaan, pendidikan dan penghasilan.
  • Geografis: tempat tinggal beserta kondisinya.
  • Psikografis: sifat, minat, kebiasaan, aspirasi, lifestyle.
  • Goals: harapan yang ingin dicapai.
  • Problems: kendala yang dialami berkaitan dengan goals mereka.

Agar buyer persona benar-benar bisa mewakili niche marketmu, maka kamu tidak bisa hanya berasumsi. Sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya, perlu ada pembuktian berupa validasi.

Kamu bisa bertemu dengan orang-orang yang termasuk di dalam niche marketmu dan tanyakan pada mereka terkait poin-poin yang sudah dipaparkan diatas. Bisa juga dilakukan secara online seperti menyebarkan Google Form, melihat apa yang didiskusikan orang-orang di komunitas, atau menggunakan tools analytics seperti Google Analytic atau Facebook Audience Insight.

Proses ini tidak bisa dilakukan hanya sekali, kamu perlu terus-menerus melakukan evaluasi terkait kesesuaian buyer personamu dengan profil asli mereka. Oleh karena itu, prinsip TOTE akan dibutuhkan disini.

Gunakan infografis yang dapat memvisualisasikan informasi mengenai buyer personamu seperti contoh berikut ini:

Contoh Visualisasi Buyer Persona
Source: Stratwell

Pilih Model Bisnis yang Scalable

Tidak semua model bisnis bisa di onlinekan, dan tidak semua bisnis online bisa bertumbuh besar serta menghasilkan banyak cuan.

Akan menjadi percuma ketika niche marketmu sudah cukup spesifik dan memiliki pasar yang banyak namun model bisnismu hanya mampu menangani sedikit konsumen dengan keuntungan yang tidak seberapa.

Untuk itu, ketika kamu sudah menemukan niche market yang tepat maka kamu juga perlu menentukan model bisnis yang bisa bertumbuh atau disebut juga sebagai bisnis yang scalable.

Coba bayangkan jika kamu memiliki bisnis jasa personal trainer yoga dan suatu hari jumlah klien meningkat hingga 10x lipat, apakah kamu sanggup menanganinya? Kalau bisnismu tidak siap, bukannya untung kamu malah akan mengecewakan konsumen.

Sampai sini sudah paham kan pentingnya punya bisnis online yang scalable?

Contoh Model Bisnis Online Scalable

Untuk membantumu menentukan model bisnis online yang dapat dikembangkan/scalable maka berikut kami berikan beberapa pilihan model bisnis yang bisa diterapkan:

  • Toko online (produksi/reseller/dropship)
  • Produk digital (ebook/video/apps)
  • Affiliate marketing
  • Kelas online
  • Digital agency
  • Konten berlangganan
  • Membership website/apps
  • Sponsorship/endorsement
  • Advertising/display ads

Menentukan Produk yang Tepat

Tiap industri pasti memiliki banyak cara untuk bisa menghasilkan uang, kamu perlu membuat daftar apa saja path to money yang ada pada niche kamu dan tentunya menjawab permasalahan dari buyer persona yang sudah ditentukan.

Kita ambil lagi contoh dari bisnis olahraga yoga, maka beberapa daftar path to money yang ada pada niche ini adalah:

  • Personal trainer yoga (online/offline)
  • Jual pakaian yoga
  • Jual peralatan yoga
  • Kelas online yoga
  • Workshop untuk personal trainer yoga
  • Ebook panduan yoga
  • Catering khusus yoga
  • Content creator khusus yoga

Banyak pilihannya bukan?

Semakin panjang daftar yang kamu buat maka semakin banyak peluang yang ada pada niche tersebut. Hasil dari daftar path to money ini akan jadi produk yang akan kamu jual.

Kamu bisa bandingkan diantara daftar tersebut mana yang paling menghasilkan keuntungan berlipat-lipat lalu pilih satu atau lebih untuk dijadikan sebagai produk dari bisnismu.

Quick Hack

Ada cara mudah loh untuk meriset dan menemukan produk yang akan kamu jual, modalnya cuma niat dan internet doang kok!

Kamu bisa manfaatkan website-website yang ada di internet seperti marketplace produk ataupun jasa, online course, forum dan sebagainya dari luar negeri.

Website Marketplace Kursus Online Udemy
Source: Udemy

Cari tahu adakah barang/jasa/produk digital yang sesuai dengan niche kamu dan masih sedikit atau bahkan belum ada pemainnya di Indonesia, lalu terapkan prinsip ATM untuk diadaptasi di pasar Indonesia.

Jika kamu berhasil menemukannya maka ini bisa jadi jackpot, karena biasanya apa yang sudah terbukti sukses di luar negeri cenderung akan sukses juga di Indonesia.

Cukup mudah kan?

Butuh rekomendasi ide bisnis online? Simak artikel mengenai 7 Ide Bisnis Online yang Menguntungkan dan Menjanjikan.

Mengetahui Customer Journey

Seperti namanya, customer journey adalah perjalanan konsumen mulai dari pertama kali mengenal brand hingga melakukan pembelian.

Kamu mungkin berpikir, untuk apa mengetahui proses seseorang menjadi pembeli? Bukankah sesederhana mereka melihat produk dan apabila tertarik maka mereka akan membelinya?

Tentu saja prosesnya tidak sesimpel itu, terutama jika kamu menjalankan bisnis online. Ada banyak proses yang harus dilalui oleh konsumen era digital hingga akhirnya mereka mengambil keputusan untuk melakukan pembelian.

Untuk lebih mudah dipahami, simak ilustrasi berikut ini.

Contoh Customer Journey Catering Diet

Andi, seorang pekerja kantoran yang mengalami obesitas ingin memulai hidup sehat dengan diet. Sebagai langkah awal, ia mulai mencari konten seputar diet di Google dan Instagram.

Dari hasil pencariannya, Andi menemukan beberapa konten yang bermanfaat. Ternyata, diantara konten tersebut sebagian besarnya bersumber dari website YukDiet.com dan akun Instagram @YukDiet.

Karena penasaran, Andi coba untuk mencari tahu lebih jauh mengenai Yuk Diet. Akhirnya Andi mengetahui kalau Yuk Diet adalah brand catering khusus untuk diet.

Andi pun tertarik mencoba jasa catering diet dan ia mempelajari lebih lanjut layanan tersebut. Namun, Andi tidak hanya mencari tahu jasa catering diet melalui Yuk Diet saja, ia juga melakukan pencarian terkait jasa catering diet di Google dan membuka website lainnya untuk melihat penawaran mereka.

Dari hasil risetnya, Andi menyimpulkan bahwa Yuk Diet memiliki penawaran yang lebih menarik dan lebih terpercaya. Sayangnya, karena belum memiliki cukup uang untuk berlangganan catering selama sebulan akhirnya Andi memutuskan untuk menunda pembelian.

Tidak lama kemudian, saat Andi sedang scrolling di Instagram dia menemukan iklan dari YukDiet yang memberikan diskon hingga 40% bagi pelanggan baru. Melihat kesempatan yang ada, Andi langsung menghubungi contact person YukDiet untuk mulai berlangganan catering.

Setelah sebulan berlangganan catering diet, Andi merasa puas dengan hasilnya. Oleh karena itu, Andi merekomendasikan catering Yuk Diet kepada teman-temannya yang memiliki permasalahan serupa dengannya.


Bagaimana? Tidak sesederhana melihat produk lalu membelinya kan? Itulah contoh dari customer journey catering diet. Tentunya bisnis dengan model dan produk yang berbeda akan memiliki customer journey yang berbeda pula.

Dengan memahami konsep customer journey, kamu akan mengetahui bagaimana tahap demi tahap proses pembelian terjadi, menentukan strategi marketing apa yang efektif pada tiap tahapannya, serta channel apa yang sebaiknya digunakan.

Ketahui Tahapannya

Untuk mengelola customer journey, kamu harus mengetahui dulu apa saja tahapan yang ada. Tahapan ini berbentuk seperti funnel atau segitiga terbalik, sering disebut juga sebagai marketing funnel. Terdapat beberapa proses di dalam suatu funnel dan bentuk segitiga terbalik ini menggambarkan jumlah target konsumen yang semakin sedikit (tersaring) seiring dengan proses yang ada.

Disini kami akan paparkan lima proses funneling yang sudah pasti ada di tiap industri. Kelima tahapan itu adalah awareness, consideration, conversion, loyalty dan advocacy.

Tentu akan lebih baik jika kamu bisa kembangkan tahapannya sesuai kebutuhan di industri kamu.

1. Awareness (Sadar)

Ketika orang-orang belum mengetahui brand ataupun produk dari bisnismu, maka tugas pertama yang dilakukan adalah membuat mereka tahu atau sadar (aware).

Di tahap ini kamu akan berusaha untuk menjangkau sebanyak mungkin target audiens agar mereka tahu bisnis kamu dan apa yang dijual, atau minimal pernah dengar nama brandmu. Setidaknya, strategi marketing yang kamu lakukan harus bisa menjawab tiga pertanyaan ini:

  • Siapa kamu dan apa yang kamu jual?
  • Kenapa target konsumen kamu harus peduli dengan penawaranmu?
  • Apa yang akan didapatkan oleh target konsumen ketika memakai produkmu? Apa yang dilewatkan jika tidak memakainya?

Strategi yang dapat kamu lakukan pada tahapan awareness adalah dengan membuat konten. Konten haruslah memiliki nilai dan manfaat bagi target audiens sehingga mereka akan menyukainya dan menginginkan lebih banyak konten darimu.

Simak rekomendasi artikel mengenai content marketing dan teknik story telling dalam membuat konten yang bisa diterapkan pada bisnis onlinemu.

2. Consideration (Menimbang-nimbang)

Jika target audiens sudah sadar akan brandmu, apa yang dijual dan manfaatnya maka selanjutnya mereka akan mulai menimbang-nimbang pilihan mana yang terbaik.

Pada tahapan ini, kamu sudah boleh melakukan sedikit hard selling seperti mengenalkan fitur dan kelebihan produk, testimoni pelanggan atau review dari public figure.

Meskipun hard selling, jangan sampai terlalu agresif dan terlihat sedang berjualan. Sedikit tips dari kami adalah fokuskan penawaran pada apa yang akan didapat oleh konsumen, bukan apa yang dimiliki produk tersebut.

Coba bandingkan dua kalimat promosi ini:


“Tas mini dengan teknologi terbaru ini mampu menyimpan banyak benda tanpa harus membutuhkan ukuran yang besar serta mudah untuk dibawa kemana-mana”.

“Untuk anda yang memiliki mobilitas tinggi dan khawatir merasa ribet karena butuh membawa banyak barang, rasa khawatir anda akan hilang karena tas ini bisa jadi solusinya”.


Mana diantara keduanya yang menurutmu lebih relate dengan konsumen? Kamu sudah tahu jawabannya bukan?

3. Conversion (Membeli)

Pada tahapan ini, fokus kamu adalah untuk membuat target konsumen sesegera mungkin melakukan transaksi serta memastikan transaksi berjalan dengan lancar.

Kata kuncinya adalah berpacu dengan waktu, sebab semakin lama proses pembelian ditunda maka kemungkinan kehilangan calon konsumen akan semakin besar.

Beberapa strategi yang dapat melancarkan proses pembelian adalah dengan memberikan beragam stimulus seperti promo, upselling (menawarkan produk pelengkap), reminder, dan pusat bantuan konsumen.

4. Loyalty (Membeli Ulang)

Berdasarkan data dari Customer Thermometer, sebanyak 80% keuntungan bisnis didapat dari 20% pelanggan lama, menarik bukan? Tentunya akan lebih mudah untuk menjual produk kepada pelanggan lama yang puas dibandingkan harus mencari pelanggan baru.

Itulah pentingnya tahap loyalty, disini kamu dituntut untuk bisa menarik pelanggan lama agar kembali melakukan pembelian. Ada beragam cara yang bisa dilakukan seperti pengumpulan poin untuk mendapatkan reward, rekomendasi produk berdasarkan produk yang sudah dibeli sebelumnya, ataupun after service.

Intinya, kamu harus berikan pelayanan maksimal yang membuat konsumen merasa nyaman denganmu sehingga muncul rasa setia pada diri mereka.

5. Advocacy (Rekomendasi)

Kamu pasti sudah tahu kan seberapa besar dampak dari word of mouth terhadap bisnis. Di tahap advocacy, kamu akan mendorong para pelanggan setiamu untuk memberikan rekomendasi kepada teman-teman mereka.

Tahap ini menjadi tahapan terakhir yang ada pada marketing funnel. Melalui tahapan ini pula kamu bisa mendapatkan awareness gratis dari pelanggan setiamu.

Berikut adalah beberapa strategi yang bisa diterapkan untuk mendorong para pelanggan setia memberikan rekomendasi kepada orang-orang.

  • Review: meminta review kepada konsumen untuk dijadikan testimoni.
  • Referral/afiliasi: memberikan insentif kepada promotor yang membantu promosi.
  • Reseller/dropship: bentuk kerjasama dimana reseller dapat menjual produk kamu dan mereka bisa mendapatkan keuntungan dari hasil jualannya.

Tentukan Tempat Berjualan Online

Kalau kamu sudah paham mengenai customer journey, kini saatnya kamu menentukan dimana kamu akan berjualan. Ada banyak channel digital yang bisa dimanfaatkan untuk berbisnis online. Mulai dari website, social media, hingga marketplace.

Simak penjelasan berikut untuk mengetahui bagaimana memanfaatkan serta mengoptimalkan penggunaan masing-masing channel.

1. Website

Website diibaratkan sebagai rumah bagi bisnis onlinemu. Tapi, kenapa website? Apa manfaatnya bagi bisnis onlinemu? Apakah ribet untuk membuatnya?

Menurut penelitian Verisign, sebanyak 56% dari konsumen digital akan lebih memercayai bisnis yang memiliki website. Informasi yang tercantum dengan lengkap pada website akan menambah keyakinan calon konsumen bahwa bisnismu dapat dipercaya. Apalagi jika website tersebut memiliki tampilan yang baik maka akan memberi kesan profesional.

Website juga bisa menjadi pusat kegiatan dari bisnismu. Kamu bisa menjual produk disana, mengumpulkan data konsumen, mendapat awareness lewat artikel yang bermutu, dan memberikan info promo terbaru.

Terdapat dua jenis website yang perlu kamu ketahui yaitu home page dan landing page. Keduanya tentu memiliki fungsi dan tujuan yang berbeda.

  • Home page: website yang menyediakan informasi lengkap dengan beragam menu yang membantu navigasi di website.
  • Landing page: website satu halaman yang dirancang dengan tujuan marketing agar pengunjung dapat melakukan suatu tindakan tertentu (contoh: melakukan pembelian, mengisi formulir, download apps, dll).

Untuk membuat website, ada banyak cara mulai dari yang simpel dan gratis seperti menggunakan Wix dan Blogger atau membuatnya sendiri dengan coding dan biaya yang besar.

Jika kamu menginginkan website dengan fitur lengkap, tampilan profesional, murah dan gak ribet, kamu bisa menggunakan jasa website development yang kami sediakan.

2. Social Media

Data dari We Are Social menunjukkan bahwa terdapat 170 juta pengguna social media di Indonesia pada Januari 2021. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 6,3% dibandingkan dengan tahun 2020.

Sebagai tempat berinteraksi secara online, social media memiliki potensi yang begitu besar untuk dimanfaatkan sebagai tempat menjalin hubungan antara brand dengan target audiensnya. Hubungan yang baik antara brand dan audiens dapat meningkatkan awareness dan loyalitas yang pastinya akan menguntungkan bagi bisnismu.

Ada banyak pilihan social media, beberapa yang populer dan paling banyak dimanfaatkan oleh brand adalah Facebook, Instagram, Twitter, Tiktok dan LinkedIn. Masing-masing platform tersebut memiliki keunggulan dan jenis audiens yang berbeda.

Dibanding menggunakan semua social media yang ada, fokuslah diawal pada satu atau sebagian social media saja yang paling banyak digunakan oleh target audiensmu serta yang paling kamu kuasai.

Susunlah strategi yang baik dan terukur agar social media bisnismu bisa berjalan secara optimal dan dapat memberi keuntungan.

Mau maksimalkan Instagram bisnismu? Gak perlu repot! Cek layanan social media marketing Digitumo.

3. Marketplace

Sebagai mall online, marketplace telah mengubah cara orang berbelanja di era digital. Di Indonesia sendiri sudah banyak bermunculan startup yang bergerak di bidang marketplace seperti Tokopedia, Bukalapak dan OLX.

Banyak kisah dari UMKM Indonesia yang berhasil memanfaatkan platform marketplace dan meraih kesuksesan membangun bisnis onlinenya. Kamu juga bisa meraih kesuksesan tersebut melalui marketplace.

Tidak terbatas pada bisnis yang produknya berupa barang saja, jika bisnismu adalah jasa atau produk digital kamu juga bisa menggunakan marketplace khusus seperti Beres.id untuk jasa dan Udemy untuk produk digital berupa online course.

Ingin tahu lebih lanjut seputar digital marketing? Dapatkan ebook Cara Lengkap Memulai Digital Marketing untuk UMKM.

Pilih Strategi yang Tepat

Apalah artinya website dan social media tanpa pengelolaan yang tepat. Kamu perlu mengetahui bagaimana strategi untuk memaksimalkan channel tempat bisnismu berjualan. Pada dasarnya, strategi bisnis online terbagi menjadi dua jenis yaitu cara organik dan berbayar.

Simak penjelasan berikut untuk mengetahui perbedaan masing-masing strategi dan penerapannya.

1. Cara Organik

Strategi dengan cara organik berarti strategi yang dijalankan secara natural tanpa bantuan dari pihak ketiga sehingga strategi ini lebih murah bahkan bisa tanpa biaya.

Meskipun demikian, strategi jenis ini memang cenderung membutuhkan waktu yang lama serta dedikasi lebih untuk bisa mencapai goals yang diinginkan.

Karena penerapannya membutuhkan waktu yang lama, maka goals yang tepat untuk strategi organik adalah goals untuk jangka panjang seperti brand awareness. Strategi ini akan jadi sangat optimal di masa depan jika kamu mampu memaksimalkannya sejak awal. Beberapa strategi organik yang bisa diterapkan pada bisnismu antara lain:

  • SEO (Search Engine Optimization): teknik optimasi website agar bisa muncul di halaman pertama hasil mesin pencarian.
  • Content Marketing:  strategi membuat konten dalam beragam bentuk seperti video, artikel, ebook, postingan sosmed dan sebagainya dengan tujuan untuk marketing.
  • Social Media Marketing: strategi mengelola social media mulai dari perencanaan, pembuatan konten hingga analisis untuk bisa mencapai goals yang diinginkan.
  • Email marketing: strategi menjalin hubungan dengan mengirimkan penawaran ataupun konten kepada target konsumen melalui email.

2. Cara Berbayar

Strategi berbayar adalah strategi yang memanfaatkan pihak ketiga dalam mengiklankan bisnis dan tentunya dikenakan tarif. Strategi ini dapat membantu bisnismu untuk mencapai goals dengan cepat dan efektif.

Tentunya ada harga ada kualitas, semakin besar biaya yang kamu alokasikan untuk beriklan maka akan semakin mudah dan cepat bagi kamu untuk mencapi goals.

Biaya yang besar menuntut adanya keuntungan yang besar sehingga modal yang keluar dapat kembali berlipat-lipat. Oleh karena itu, strategi ini cocok digunakan apabila tujuanmu adalah penjualan atau pengumpulan data prospek.

Ada banyak pihak ketiga yang menyediakan platform untuk beriklan seperti Google, Facebook, Instagram, Twitter, Tiktok, Youtube, dan sebagainya. Berikut adalah beragam jenis strategi berbayar atau paid ads yang bisa kamu pilih dan terapkan:

  • SEM (Search Engine Marketing): strategi beriklan pada halaman hasil mesin pencarian seperti Google, Bing dan lainnya.
  • GDN (Google Display Network): strategi beriklan pada berbagai situs di internet yang sudah bekerja sama dengan Google, contohnya seperti Youtube, portal berita online, aplikasi dan sebagainya.
  • GSP (Gmail Sponsored Promotion): strategi beriklan pada platform Gmail, konten emailmu bisa menjangkau alamat email target audiens tanpa harus memiliki alamat email mereka.
  • Paid Social: strategi beriklan pada platform social media seperti Facebook, Instagram, Tiktok dan lainnya.
  • KOL (Key Opinion Leader): strategi kerjasama dengan influencer untuk mengiklankan bisnismu melalui akun social media mereka.

Sudah Siap Memulai Bisnis Online Pertamamu?

Kamu sudah memahami secara lengkap bagaimana step-by step cara untuk memulai bisnis online yang baik untuk pemula mulai dari mindset hingga strateginya. Sekarang kamu tinggal melakukan langkah terpenting yaitu mempraktikan apa yang sudah didapat.

Tidak ada kata instan dalam setiap proses membangun bisnis online. Kamu mungkin akan langsung meraih keberhasilan pada bisnis pertama, atau justru mengalami kegagalan pertama.

Apapun hasilnya, tidak ada ruginya bagi dirimu karena setiap proses yang dilalui pasti akan memberikan dampak yang baik di masa yang akan datang. Selamat mencoba dan jangan lupa untuk terus belajar ya!

Leave a Reply